Search
  • Elwin Tobing

PARTAI MIG (Pemenang Pemilu Indonesia 2024)

Updated: Sep 28



Guru sejarah SMP saya dulu mengatakan bahwa ketika pemuda-pemudi Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka mengganti kata Indonesia Raya dengan “Tahu sama tahu”. Alasannya adalah supaya penjajah Belanda tidak menangkap mereka. Entahlah apakah itu mitos atau tidak.


Di negara Paman Sam, awal bulan ini Joe Biden, Partai Demokrat, serta media di AS mengatakan pendukung MAGA adalah semi fasis dan teroris.


MAGA. Make America Great Again. Menjadikan Amerika Raya kembali.


Tetapi seperti “Indonesia Raya” sebelum kemerdekaan, itu dianggap sesuatu yang tabu. Haram. Anti Amerika. Rasis.


Itu menurut kaum demokrat liberal di AS. Yang 24/7 disebarkan dan diabadikan oleh media AS, yang 90% adalah demokrat liberal.


Politik adalah tentang praktik kecanggihan membuat label. Seringkali tentang label buruk tanpa dasar tentang lawan politiknya. Sebab kebohongan yang diulangi terus pada akhirnya bisa menjadi kebenaran. Itu hukum propaganda dari Joseph Goebbels, kampiun propagandist Nazi.


PUNAH DALAM SATU GENERASI


Misalnya tuduhan bahwa MAGA rasis. Ini sering disampaikan dalam kemasan bahwa MAGA anti imigrasi. Tetapi keliru.


MAGA pro aturan dan penegakan hukum, termasuk hukum imigrasi. Imigran gelap di Amerika sebelum Pemilu 2020 diperkirakan 20 juta jiwa. Belum dua tahun Biden berkuasa, diperkirakan sudah 5 juta imigran gelap masuk ke Amerika melalui perbatasan Selatan AS.


Dalam debat kandidat presiden tahun 2020, Joe Biden mengatakan akan memberikan amnesti kepada imigran gelap/tidak sah. Artinya, itu membuka kesempatan kepada 20 juta orang secara resmi masuk dalam sistim sosial, politik dan ekonomi, bebas sama seperti warga negara. Bayangkan tekanan yang terjadi terhadap sistim yang ada. Dan jumlah tambahan suara baru dalam Pemilu. Untuk partai pendukung amnesti.


Dalam artikel di American Thinker, 29 October 2020, saya tulis bahwa bila kebijakan amnesti tersebut dijalankan, AS akan dikontrol dan dikuasai secara permanen oleh partai penguasa tunggal. Partai Demokrat.


Pada hari Pilpres AS, 3 November 2020 lalu, media TV Beritasatu dari Indonesia menginterview saya bagaimana Trump yang menentang imigran masih bisa dapat dukungan di AS. Saya jawab bahwa Trump menentang imigrasi gelap/tidak sah, bukan imigrasi sah. Itu sebabnya pembangunan tembok di perbatasan Amerika menjadi simbol kebijakan MAGA-nya. Menegakkan hukum dan peraturan imigrasi. Tanpa hal itu, suatu negara bisa menjadi negara abal-abal.


Beberapa dekade lalu, Malaysia kewalahan akan aliran imigran gelap, yang mayoritas dari Indonesia. Seperti dilaporkan di Slate 30 Agustus, 2002, sekitar 500 ribu imigran gelap di Malaysia, yang mayoritas dari Indonesia, kabur dari negara tersebut setelah pemerintah Malaysia memberikan mereka 4 bulan untuk keluar dari negara tersebut.


Pemerintah Malaysia tidak salah. Itu bukan rasis. Sama seperti tidak rasis bila warga Indonesia menentang jutaan imigran gelap memenuhi Nusantara, misalnya.


Tentu, siapa yang mengontrol media, dia yang mengontrol narasi. Dan Joseph Goebbels sudah mempostulasikan akan apa yang terjadi kemudian.


Seperti kata Ronald Reagan, mantan presiden AS, kebebasan hanya satu generasi dari kepunahan. Dalam satu generasi, suatu bangsa dan negara besar pun bisa menjadi berantakan apabila dikelola secara amburadul oleh elit penguasa atau kekuatan politik yang sarat korupsi atau salah prioritas, atau keduanya.


MAGA lahir karena reaksi frustasi mayoritas rakyat AS akan korupsi dan kecenderungan elit politik, elit bisnis, elit birokrasi, dan para pelobi di Washington, D.C. yang memprioritaskan kepentingan partai dan global di atas kepentingan nasional Amerika. Bukan mengada-ada misalnya apabila Isaac Fish, jurnalis Amerika yang dirinya sendiri cenderung berideologi liberal, tahun ini merilis buku “America Second: How America’s Elites Are Making China Stronger”.


GOD, FAMILY, COUNTRY


Apakah MAGA ideologi fasis? Mungkin juga penjajah Belanda dulu mengatakan hal yang sama dengan Indonesia Raya. Menelaah lebih jauh prinsip MAGA bisa memberikan perspektif, khususnya kepada yang kurang begitu paham dinamika politik ideologi di AS. Filosofi atau prinsip dasar MAGA berpusat pada empat entitas. God, family, country, community. Tuhan, keluarga, negara, komunitas. Dengan urutan seperti itu.


Sederhana, bukan? Mengingatkan saya dengan dasar negara Indonesia. Pancasila.

Tidak ada yang lebih Pancasila daripada prinsip MAGA di atas. Mari saya jelaskan.


SILA PERTAMA


Urutan pertama artinya berke-Tuhanan. Yang percaya bahwa kemerdekaan manusia atau hak asasi itu bersumber dari Tuhan. Karena itu, tidak boleh ada yang bisa mencabik dan merampasnya, termasuk pemerintah sekalipun.


Di samping itu, dengan mengakui adanya Tuhan, pendukung MAGA percaya bahwa standar moral dasar (basic moral standards) itu ada dan umumnya permanen, bukan relatif. Itu tidak tergantung situasi politik dan budaya, sebab konsep Tuhan itu sendiri adalah permanen. Abadi. Karenanya, standar moral yang bersumber atau diilhami Tuhan adalah permanen.


Misalnya, bahwa wanita dan pria itu beda kelamin, itu standar dari jaman purbakala. Dari masa penciptaan sampai akhir jaman. Dan itu hal hakikat apabila kita mengakui adanya otoritas Ilahi, tidak fleksibel sesuai arah perubahan politik atau budaya. Itu salah satu inti komponen Tuhan dalam MAGA.


Dan sila pertama Pancasila pada dasarnya bicara hal-hal di atas. Tentang kemerdekaan manusia dan standar moral dasar.


SILA KEDUA


Tentang prioritas kedua, keluarga, ini juga sederhana. Dalam keluarga yang benar, diharapkan ada kemanusiaan. Beradab. Siapa yang mau tidak berperi-kemanusiaan terhadap sanak saudaranya sendiri? Bila ada, itu kekecualian, bukan norma.


Inti sila kedua adalah Golden Rule, lakukan kepada orang apa yang kamu mau orang lain kepadamu. Dan jangan lakukan kepada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan kepadamu. Prinsip dasar yang kita harapkan dari keluarga sendiri.


Sila kedua juga memiliki arti bahwa dalam kehidupan kolektif, berpikirlah dalam konteks sebagai suatu keluarga. Menolong satu sama lain untuk kemajuan bersama. Itu keluarga yang benar. Itu inti sila kedua dalam konteks individu, keluarga, dan masyarakat.


SILA KETIGA & KEEMPAT


Menyangkut urutan prioritas ketiga, negara/bangsa, kita hidup dalam suatu negara. Dalam kehidupan bernegara, prinsipnya adalah seperti isi pidato inagurasi John F Kennedy, mantan Presiden AS, “Jangan tanya apa yang negaramu dapat berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang kamu dapat berikan kepada negaramu”.


Dengan kata lain, bangunlah negara mu; bukan negaramu yang membangun Anda. Tentu dalam mewujudkan hal tersebut tidak mungkin bermain solo. Perlu kerjasama.


Esensi sila Persatuan Indonesia adalah gotong royong. Kolaborasi. Sinergi. Tidak ada gotong-royong yang hanya berjalan satu arah. Itu aktivitas dua arah. Take and give. Dan tidak ada gotong-royong yang bertahan kalau anggota-anggotanya umumnya adalah free riders. Penumpang tanpa bayar. Atau penumpang gelap.


Warga negara yang baik berkontribusi positif, kecil atau besar, terhadap kemajuan negaranya. Menjadi aset terhadap kemajuan bangsa. Agar bisa kontribusi terhadap kemajuan tersebut, setiap insan harus berusaha punya hikmat dan pengetahuan. Itu inti sila keempat.


Orang sering mengartikan bahwa sila ke-empat adalah tentang demokrasi. Dalam konteks individu dan masyarakat, itu lebih pada berhikmat dan berpengetahuan.


Bagaimana suatu permusyawaratan serta perwakilan-perwakilan bisa menghasilkan aturan dan kebijakan-kebijakan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik apabila mereka sendiri tidak punya hikmat dan pengetahuan? Dan bagaimana kita bisa memilih perwakilan yang memiliki karakteristik tersebut apabila insan-insan di masyarakat sendiri tidak memilikinya?


Jadi prioritas ketiga, negara, artinya memajukan negara dengan semangat kolaborasi. Dengan kerja keras. Dengan pengetahuan. Dengan prinsip-prinsip yang bermoral. Dan dengan perilaku bernegara dan bermasyarakat yang mengikuti dan menghargai hukum dan peraturan.


SILA KELIMA


Implisit dalam bernegara adalah bermasyarakat. Masing-masing kita adalah bagian daripada komunitas. Siapakah Anda bila Anda hidup hanya untuk Anda sendiri? Perlu sharing. Berbagi.


Tidak ada bangsa di dunia ini yang lebih bermurah hati daripada warga Amerika. Setiap tahun warga Amerika memberikan 400 miliar dolar lebih terhadap kegiatan amal. Tahun 2021 mereka menyumbang untuk kegiatan amal sekitar 484 miliar dolar. Ini hampir separuh real PDB Indonesia tahun 2021 (1,065 miliar dolar).


Pada 2021 total pengeluaran pemerintah AS untuk program kesejahteraan sosial sekitar 2,4 triliun, termasuk $760 miliar lebih untuk bantuan kesehatan kepada kalangan ekonomi lemah. Rata-rata keluarga miskin dengan anak-anak di AS sudah menerima $65,200 uang tunai, makanan, perumahan, perawatan medis, dan dukungan pendidikan setiap tahun.


Tetapi berbagi bukan berarti menjadi sosialis dan menggunakan kekuatan negara untuk merekayasa perubahan sosial mengarah ke masyarakat egalitarian utopis. Masyarakat yang sama rata. Tetapi adalah masyarakat yang berkeadilan secara sosial dan yang bertanggung jawab.


Artinya, yang salah dihukum. Yang bekerja keras menerima dan menikmati hasilnya sesuai dengan kerja kerasnya. Dan yang malas bekerja menerima bagiannya sebagai pemalas. Bukan berarti malah mendorong yang malas dan yang menciptakan masalah-masalah sosial dengan memberikan mereka berbagai program kesejahteraan.


Itu juga prinsip sila kelima dari Pancasila.


PARTAI MIG (MAKE INDONESIA GREAT)


Giorgia Meloni baru menang di Italia. Menjadi perdana wanita pertama di negara tersebut setelah partai politiknya, Brothers of Italy, menang dalam pemilu minggu lalu. Ideologi politiknya bisa diringkas dalam empat kata: God, Family, and Country.


MAGA versi Italia. Tidak mengherankan bila Giorgia Meloni tidak jarang mengutip Ronald Reagan dan Trump dalam pidatonya.


Dalam pidatonya pada Konferensi Konservatisme Nasional di Roma pada 3 Februari 2020, Giorgia Meloni dengan tegas mendefinisikan siapa aktor penghambat kemajuan negaranya:


“Musuh utama kita saat ini adalah arus globalis dari mereka yang memandang identitas dan segala bentuknya sebagai kejahatan yang harus diatasi. Dan terus-menerus meminta untuk mengalihkan kekuatan nyata dari rakyat ke entitas supranasional yang dipimpin oleh para elit yang dianggap tercerahkan.”


Ideologi globalis versus ideologi nasionalis. Kepentingan elit berkedok “global” versus kepentingan rakyat umum. Itu yang terjadi dewasa ini.


Dalam pemilu yang fair dan jujur, yang menang adalah ideologi nasionalis.


PEMILU INDONESIA 2024


Itu sebabnya bila ada kekuatan, saya mau mendirikan Partai politik baru di Indonesia. Partai MIG. Make Indonesia Great. Mewujudkan Indonesia Raya. Bukan Gerakan Indonesia Raya, sebab kata gerakan dewasa ini justru sering kurang bergerak.


Ideologinya: God, family, country, and community. Pancasila. Seperti yang sudah diuraikan di atas.


Itu akan menjadi partai pemenang di 2024.


Umumnya parpol di Indonesia sekarang masih cenderung partai jargon. Belum sarat substansi prinsip, gagasan, sumber daya manusia, dan rancangan kebijakan yang tepat dan benar untuk memajukan Indonesia. Dan sama satu lain hampir sama, kecuali warna jaketnya.


Apa platform dasar mereka? Apakah di dalam partai sendiri berkembang semangat, suasana, budaya, dan gagasan untuk secara tepat dan benar membangun Indonesia? Apakah betul-betul berkembang spirit demokrasi di dalam internal partai politik yang justru menamakannya demokrasi/demokrat? Dan lain sebagainya.


Sementara rakyat Indonesia sudah haus satu hal. Yaitu, ideologi nasionalis dengan pemimpinnya yang betul-betul berkomitmen menjadikan “Make Indonesia Great” prioritas nomor satu. Kepentingan rakyat Indonesia nomor satu. Bukan kepentingan oligarki atau golongan.


Dikotomi konflik bukan antara cebong vs kadrun. Atau apapun labelnya. Tetapi adalah antara “Make Indonesia Great” vs “Make Unknown Power Great”.


Dalam pemilu yang fair dan jujur, yang akan menang adalah Partai MIG (Make Indonesia Great). Partai dengan asas Pancasila dalam pengertian yang sudah diuraikan di atas.


Mari bergabung!

0 comments

Recent Posts

See All