Search
  • Elwin Tobing

Rakyat Kita Memang Miskin


Kita bisa bersembunyi, tetapi tidak bisa melarikan diri dari data.


Kita seperti kaget. Atau pura-pura kaget. Bank Dunia merilis data dan kriteria kemiskinan. Jumlah penduduk miskin Indonesia melonjak 13 juta. Koq bisa? Bukankah kita bicara pembangunan terus?


Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan ekstrim menjadi US$2,15 per orang per hari. Setara Rp 32.755 per hari dengan asumsi kurs Rp 15.235. Sebelumnya garis kemiskinan ekstrim di adalah US$ 1,90 per orang per hari.


Faktanya, rakyat kita miskin. Tidak saja terlihat dari situasi perumahan dan kondisi di dalamnya, tetapi dari sumber dan tingkat mata pencaharian mereka sehari-hari.


Pada awal Januari 2014, saya sosialisasi kampanye caleg DPR RI di Kampung Rawang, Asahan, Sumatera Utara. Bertani sawah basah adalah sumber mata pencaharian utama mereka. Tetapi umumnya mereka bukan pemilik sawah, melainkan penggarap. Sebagai penggarap, sekitar 50% hasil panen akan diserahkan ke pemilik lahan. Sementara, mereka harus membiayai berbagai kebutuhan produksi seperti penyediaan benih, pupuk, dan lain sebagainya.


Apabila panen berhasil, mereka sedikit lega. Tetapi panen tidak selalu berhasil. Tidak jarang juga gagal. Pada saat itu, panen mereka gagal. Tikus dan musim kering penyebabnya.


Masalah air adalah hal kronis di kampung tersebut. Sekitar dua minggu berikutnya, saya dengan tim menyelenggarakan temu muka dengan lebih 300 ratus petani di Sei Meranti, Asahan. Yang hadir termasuk petani dari Kampung Rawang. Dalam pertemuan tersebut, para petani meminta agar pemerintah memikirkan untuk membangun waduk atau sistim pengairan sehingga bisa membantu mengatasi air ketika musim kering.


Calon anggota DPR periode sebelumnya, ketika kampanye sudah berjanji akan memperjuangkan pembangunan waduk tersebut. Sayangnya, setelah kandidat tersebut menang pemilu, tidak pernah ada lagi komunikasi dengan rakyat pemilih di daerah tersebut.


Namun ada faktor lain yang tidak kalah serius yang mereka hadapi, yaitu pengijonan. Karena panen sebelumnya gagal, untuk mendukung kehidupan mereka sehari-hari, mereka meminjam uang dari tengkulak yang akan dibayar pada panen berikutnya. Pinjaman ini juga untuk membantu biaya produksi seperti benih, pupuk, dan lain sebagainya. Apabila panen gagal lagi, kehidupan mereka semakin berat. Meskipun panen tidak gagal, kehidupan mereka tetap berat karena sebagian pendapatan panen mereka sudah harus digunakan untuk bayar hutang.


Di Batubara, kabupaten yang bertetangga dengan Asahan, situasinya juga tidak jauh berbeda. Tidak sedikit penduduk di Batubara yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Suatu malam di bulan Januari 2014, saya bertemu dengan sekitar 30 nelayan di rumah salah satu penduduk. Mata pencaharian utamanya berdagang kelontong, tetapi dia sangat peduli dengan kehidupan nelayan di sekitarnya. Mereka adalah pelanggan usaha dagangannya.


Keluhan mereka juga sama seperti petani di kampung Rawang. Terjerat ijon. Mereka menanyakan saya apa kira-kira jalan keluar yang bisa saya lakukan, baik sebagai individu maupun kalau sudah di pemerintahan, untuk membantu mereka. Saya bukan dalam posisi yang secara finansial bisa menyelesaikan persoalan mereka. Apalagi untuk konteks yang lebih permanen.


Sama seperti petani di Kampung Rawang, kelemahan yang saya lihat adalah hampir tidak ada lembaga simpan pinjam yang disponsori oleh pemerintah dan dikelola dengan partnership swasta dan pemerintah. Semacam koperasi unit desa tetapi cakupan operasionalnya termasuk dalam hal simpan pinjam untuk produksi dan konsumsi. Dengan bunga rendah.


Pendapatan yang rendah karena gagal panen dan penangkapan ikan, tetapi dihadapkan dengan kebutuhan yang meningkat, membuat tidak sedikit rakyat terjebak dalam hutang. Pada gilirannya, itu semakin memperburuk tingkat kehidupan mereka. Ini tidak hanya terjadi di Asahan dan Batubara, tetapi saya yakin di banyak daerah di Indonesia.


Rakyat kita memang miskin.


JANGAN ABAIKAN DATA


Kita bisa berkelit dengan statistik dan bermain dengan kriteria. Tetapi seperti kata pepatah, “Anda bisa melarikan diri, tetapi tidak bisa bersembuny”. Data statistik tidak bisa menyembunyikan realitasnya yang sebenarnya.


Per data BPS, jumlah penduduk miskin pada September 2021 sebesar 26,50 juta orang (9,71% total penduduk). Ini dengan kriteria garis kemiskinan Rp 486.168 per kapita per bulan atau kurang dari Rp 17 ribu per orang per hari. Atau sekitar $1.15 per hari atau $410 per tahun.


Kriteria ini cukup rendah, sebab itu bukan hanya pengeluaran untuk makan dan minum. Turut juga kebutuhan non-makanan berupa perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Untuk berbagai kebutuhan non-makanan ini, BPS menetapkan garis kemiskinan Rp 126.161 (26% dari total garis kemiskinan) per orang per bulan. Jumlah yang sangat rendah. Ini sepertinya mengasumsikan bahwa penduduk Indonesia sudah memiliki rumah dan hidup dengan jaminan pendidikan dan kesehatan.


PERBANDINGAN DENGAN AS


Indonesia vs AS? Kedengarannya seperti membandingkan jeruk dengan apel. Tidak juga. Kita bisa buat seperti perbandingan antara apel dengan apel melalui kalibrasi datanya berdasarkan tingkat daya beli.


Pada tahun 2020, kriteria garis kemiskinan di Amerika adalah $12.300 per tahun per orang. Ini setara $35 (Rp 500 ribu) per hari per orang. Sementara itu, rata-rata tingkat pendapatan (RTP) per kapita per tahun sebesar $58.500. Artinya, garis kemiskinan di AS tersebut sekitar 21% daripada RTP per kapita mereka.


Bila menggunakan kriteria ini (21% dari RTP), dengan RTP per kapita di Indonesia pada tahun 2020 sebesar $3.756, maka garis kemiskinan di Indonesia sebesar $789 per kapita per tahun. Atau setara $2,16 per kapita per hari. Ini hampir dua kali lipat kriteria garis kemiskinan yang digunakan BPS, yakni $1.15 per kapita per hari. Dengan kriteria $2,16 tersebut, jumlah penduduk miskin di Indonesia jauh lebih tinggi daripada 26,5 juta jiwa. Melonjak sekitar 13 juta. Sama seperti angka Bank Dunia.


Karena daya beli $1 di Indonesia lebih tinggi daripada di AS, kita bisa gunakan perbandingan kriteria garis kemiskinan dengan memperhitungkan daya beli di masing-masing negara. Ini yang dinamakan perbandingan dengan sistim Purchasing Power Parity (PPP).


Pada tahun 2020, disesuaikan terhadap daya beli, RTP per kapita per tahun di Amerika dan Indonesia masing-masing $60.1 ribu dan $11.4 ribu. Dengan angka ini, standar garis kemiskinan di Amerika sekitar 20% ($12,300/$60,100) daripada RTP per kapita mereka.


Menggunakan kriteria ini, maka garis kemiskinan di Indonesia sebesar $2.280 per kapita per tahun atau $6,2 per kapita per hari. Persentase yang hidup di bawah garis kemiskinan di Indonesia mencapai 60% dari total penduduk.


Dengan kriteria $4,6 per kapita per hari, sekitar 42% penduduk kita hidup dalam kemiskinan.

Dengan kriteria $3,2 per kapita per hari, sekitar 54 juta atau 20% penduduk kita hidup di bawah kemiskinan.


PERSPEKTIF LAIN


Cara lain melihat angka kemiskinan ini bisa menggunakan distribusi pendapatan. Pada tahun 2019, 20% penduduk Indonesia hanya menikmati 6.9% dari total pendapatan nasional. Ini ekuivalen dengan rata-rata pendapatan $1,337 per kapita per tahun atau $3.6 per kapita per hari.


Lebih lanjut, pada tahun yang sama, 40% penduduk Indonesia hanya kebagian 17.7% total pendapatan nasional. Rata-rata pendapatan mereka besarnya $1,715 per kapita per tahun atau $4.6 per kapita per hari. Ini kurang lebih konsisten dengan jumlah penduduk miskin di bawah garis kemiskinan yang diuraikan di atas.


Kembali lagi, mana kriteria yang lebih layak? Kriteria garis kemiskinan dari BPS cenderung seperti merendahkan martabat penduduk Indonesia. Siapa yang bisa hidup dengan Rp 126 ribu untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan?


Menurut saya kriteria batas garis kemiskinan yang layak dan lebih berperi-kemanusiaan adalah $3,2 per hari per orang (atau sekitar Rp 50 ribu per hari). Dengan kriteria ini 54 juta atau 1 dari 5 lima penduduk kita hidup di bawah kemiskinan.


PERBANDINGAN INTERNASIONAL


Perbandingan internasional menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia masih cukup serius. Di banding Thailand dan Vietnam misalnya, tingkat kemiskinan Indonesia jauh lebih tinggi. Pada tahun 2018, di Thailand dan Vietnam, persentase penduduk yang hidup kurang dari $3,2 per kapita per hari masing-masing hanya 0,5% dan 6,6%, sementara di Indonesia 21,5%.


Persentase penduduk miskin dengan kriteria $3,2 per hari tahun 2018 (Sumber Bank Dunia).


NEGARA

Indonesia (21.5%)

Thailand (0,5%)

Columbia (4%)

Vietnam (6,6%)

China (5,4%)

Korea Selatan (0,2%)


KESIMPULAN


Rakyat kita memang masih miskin. Dan jumlahnya sangat banyak. Perlu kriteria garis kemiskinan disesuaikan dengan mempertimbangkan kenyataan di lapangan dan hidup dengan kondisi sosial ekonomi minimum. Kedua, perlu kebijakan dan program pengentasan kemiskinan dengan target-target konkrit, terukur, dan diukur, dievaluasi, di monitor, serta dimutakhirkan secara terus-menerus.


Bagaimana solusi kebijakan dan program pengentasan kemiskinan, itu bisa pembahasan di lain kesempatan.

0 comments

Recent Posts

See All