Search
  • Elwin Tobing

Manufaktur Krisis Ras di AS

Hari ini, 17 Maret, terjadi penembakan dilakukan oleh pemuda kulit putih terhadap beberapa wanita Asia di kawasan tempat pijat/spa di kota Atlanta, negara bagian Georgia. Di Kota San Fransisco beberapa hari lalu, seorang pemuda kulit hitam meninju orang tua keturunan Asia sampai meninggal. Insiden tidak berdarah dilaporkan dialami sejumlah orang Asia di Amerika akhir-akhir ini.


Media dan politikus Demokrat di AS, termasuk Presiden Biden dan Wapres Kamala langsung mengklaim bahwa Amerika adalah negara rasis dan sekarang targetnya adalah keturunan Asia. Tidak segampang itu. Dan itulah aspek sangat negatif dari politik kekuasaan.

Umumnya siapa yang menuduh sesuatu, justru kebalikannya yang benar. Empat jari menuduh diri sendiri. Media dan Demokrat justru rasis. Mengapa?


Tidak Terbukti Secara Empiris


Amerika bukan negara rasis. Bila tidak, Obama tidak terpilih dua kali sebagai presiden. Jabatan paling strategis mulai dari Pangab, Menhan, Menlu (2 pemerintahan), Menteri Perumahan (minimal 2 pemerintahan), Jaksa Agung, banyak anggota DPR, dan beberapa senator pernah dan sedang diduduki kalangan berkulit hitam. Sekitar 80% pemain football di AS adalah kulit hitam. Demikian juga basketball. Figur-figur paling terkemuka di bidang media, hiburan, dan olahrga di AS adalah kulit hitam.


Bila Amerika masih rasis secara sistematis seperti klaim media dan Partai Demokrat, bagaimana mungkin hal-hal di atas terjadi? Bahwa ada insiden di sana sini itu wajar di tengah suatu negara berpenduduk 330 juta jiwa.


Tingkat pendapatan rata-rata di AS berdasarkan urutan ras: Asia, kulit putih, dan kulit hitam. Median pendapatan keluarga kulit hitam di AS sekitar $30 ribu lebih dibanding kulit putih. Tetapi $52 ribu lebih rendah $50 ribu dibanding keturunan Asia.


Tahun 2019, median pendapatan keluarga di AS


Asia $98 ribu

Kulit putih $76 ribu

Latin $56 ribu

Kulit hitam $46 ribu



Bila kulit putih adalah rasis, mengapa secara umum keturunan Asia lebih baik secara ekonomi daripada kulit putih? Hal ini sudah kami tuliskan di Kompas pada 17 Juni 2020 berjudul Tantangan Fundamental Kulit Hitam AS. Berikut penggalan artikel tersebut:


Pendapatan keluarga adalah resultan dari berbagai faktor termasuk modal manusia, modal sosial, dan stabilitas kehidupan keluarga. Yang terakhir bisa sangat menentukan. Dan justru di sinilah terletak tantangan fundamental kulit hitam AS. Keluarga yang pecah.

  • Pada tahun 2004, sekitar 56 % anak-anak kulit hitam hidup dengan keluarga satu orang tua (umumnya dengan ibu). Ini jauh dibanding kulit putih (22 %) dan etnis Latin (31 %).

  • Pada tahun 2015, 77 % bayi kulit hitam lahir kepada keluarga dengan single ibu. Tidak ada ayah. Mengapa? Faktor utamanya adalah perceraian.

  • Pada 2018, wanita kulit hitam mengalami perceraian tertinggi di AS (31 %), dibanding kulit putih (15 %), Latin (19 %), dan Asia (8 %).

  • Berdasarkan penelitian Cohen, dkk. (2012), dalam rentang 20 tahun setelah menikah, sekitar 63 % pernikahan wanita kulit hitam berakhir dengan perceraian, jauh lebih tinggi dibanding wanita kulit putih (46 %), Latin (47 %), dan Asia (31 %).

Dari data Survei Komunitas Amerika (2018), wanita kulit hitam satu-satunya ras di AS yang memiliki tingkat perceraian yang lebih tinggi daripada tingkat pernikahan. Tingkat perceraian wanita usia 15 tahun ke atas sekitar 31 dari 1000 pernikahan, sementara tingkat pernikahan hanya 17 dari 1000 wanita yang belum menikah.

Secara keseluruhan, wanita kulit hitam menikah terlambat, berpeluang lebih tinggi untuk cerai, dan memiliki rentang pernikahan yang lebih pendek.

Kehidupan keluarga tanpa ayah ini berimpak pada kehidupan ekonomi dan sosial pada generasi berikutnya.

Tidak heran bila C. Eric Lincoln, cendekiawan dan penulis Amerika berkulit hitam, mengatakan bahwa “penyakit abadi” keluarga kulit hitam AS adalah ayah yang absen dari struktur keluarga mereka. Eric Lincoln sendiri dibesarkan oleh neneknya karena ditinggalkan ayahnya dan diabaikan ibunya waktu kecil.

Realitas kelam struktur keluarga kulit hitam ini bukan hal baru. Senator Daniel Patrick Moynihan, yang menerbitkan laporannya pada tahun 1965 ketika dia masih asisten menteri tenaga kerja AS menyimpulkan, “Di jantung kemunduran masyarakat kulit hitam adalah kehidupan keluarga yang berantakan….Struktur kehidupan keluarga dalam komunitas kulit hitam merupakan fenomena sebab-akibat yang kusut, yang terus akan berlanjut tanpa intervensi eksternal.”

Solusi apa pun terhadap tantangan kehidupan sosial ekonomi kulit hitam di AS akan sulit berhasil sepanjang itu tidak menyentuh perbaikan terhadap institusi yang paling fundamental di peradaban manusia, yakni keluarga.

Politik dan Media

Politik dan bantuan pemerintah bisa jadi solusi masalah sosial ekonomi, tetapi bisa juga jadi jebakan. Itu bisa menciptakan ketergantungan tanpa akhir.

Salah satu platform utama Partai Demokrat di AS adalah peningkatan dan perluasan program bantuan kepada keluarga marginal, terutama kulit hitam. Tidak heran apabila dalam beberapa dekade terakhir sekitar 90% pemilih kulit hitam adalah pemilih setia Partai Demokrat. Ini menjadi semacam hubungan patron dan klien.

Karena itu memelihara isu rasisme hidup terus adalah termasuk bagian kepentingan politik Partai Demokrat.

Tetapi kenapa dengan media? Sekitar 95% lebih media di AS pada dasarnya adalah underbow dari Partai Demokrat. Dalam bahasa politik, mereka adalah alat propaganda Partai Demokrat.

Kenapa Menuduh Kulit Putih?

Proporsi Asia di AS hampir 5%. Kulit putih 60%, Latin 19%, kulit hitam 12.5%, dan Asia sekitar 6%. Kampanye menggalakkan isu rasisme sistematis yang selalu digalakkan oleh media dan kalangan liberal demokrat di AS adalah bagian daripada upaya mengubah tatanan hubungan sosial dan nilai-nilai dasar Amerika dari Judeo-Christian menjadi sekular-marxist-komunis. Prinsip fundamental daripada sekular-marxist-komunis adalah pertentangan antar kelas (ekonomi, ras, dan sebagainya). Itu bisa berkembang kalau konflik kelas sosial menjadi membara sehingga revolusi bisa digerakkan. Yaitu, revolusi untuk mengubah tatanan struktur sosial dan nilai-nilai dasar masyarakat.

Bila ada tindakan kriminal yang dilakukan antara kulit hitam terhadap Asia, itu tidak akan menjadi berita utama dan faktor ras tidak menjadi isu penting seperti yang terjadi di San Fransisco. Dalam insiden ini, pihak kepolisian langsung mengatakan itu tidak terkait masalah ras. Kenapa? Karena pelaku dan korban sama-sama kaum minoritas.

Tetapi penembakan beberapa perempuan di spa/panti pijat di Atlanta yang dilakukan seorang pemuda kulit putih langsung diklaim media dan Partai Demokrat karena masalah ras. Kenapa? Karena itu melibatkan anggota kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas.

Ternyata menurut laporan terakhir pelakunya penderita kecanduan seks. Kemungkinan karena mendapat penolakan ketika mau memijat.

Mengapa Partai Demokrat yang juga banyak pemimpinya berkulit putih melakukan hal itu? Itu karena Partai tersebut sudah mengalami metamorfosis menjadi penganut sosialis-marxist-komunis. Secara panjang lebar kami uraikan hal ini di essay berikut:

· The Demon in Democracy

· Totalitarian Democracy

Manufaktur Masalah Rasis

Tidak ada bangsa yang sempurna. Tetapi seseorang yang mau berdiam dan bekerja di Eropa Barat bisa mencoba membandingkan di mana masyarakat yang lebih terbuka menerimanya: Eropa atau Amerika. Bahwa ada insiden, itu bukan menjadi suatu norma. Insiden yang sistematis dan masif, itu menjadi norma. Dan bukan itu yang terjadi di AS seperti yang diklaim media dan Partai Demokrat yang fokus utamanya adalah politik kekuasaan. Politik dominasi hanya bisa langgeng dalam konflik. Sejauh tertentu itu kita alami di Indonesia dengan isu SARA sebagai salah satu legitimasi Partai Orba untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara-cara soft-repressive .

Masalah rasis adalah manufaktur krisis politik untuk kepentingan politik kaum liberal radikal di AS.

Ada pepatah tentang penerimaan masyarakat terhadap pendatang:


  • Di AS, anda dipercaya sampai kemudian terbukti tidak bisa dipercaya.

  • Di Eropa, anda tunjukkan dulu secara historis bisa dipercaya baru bisa dipercaya.

  • Di Indonesia, mau apapun selalu tidak percaya.

Dan memang tingkat kepercayaan di tengah masyarakat kita, khusunya antar golongan, termasuk sangat rendah. Tetapi saya kira Indonesia bukan negara rasis.


0 comments

Recent Posts

See All