Search
  • Elwin Tobing

KURANG BERPIKIR SECARA EKOSISTEM: KELEMAHAN KITA?


(Dari Penelitian ke Kampus Merdeka dan Ibu Kota Baru)


Persis 10 tahun lalu, saya bertemu dengan Profesor Niclas Adler dari Babson College, AS, di Jakarta. Ketika itu, Niclas Adler diangkat sebagai rektor IPMI (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia). Dalam pertemuan tersebut, beliau berbagi gagasan untuk membentuk suatu kumpulan profesor peneliti (scholar pooling) di bidang bisnis, ekonomi, dan manajemen. Mereka adalah para peneliti Indonesia (dan luar) yang sudah punya publikasi di jurnal kaliber internasional dan peduli membantu counterpart mereka yang di Indonesia.


Katakan itu seperti semi asosiasi. Mereka inilah, menurutnya, diharapkan bisa membantu membimbing dosen di IPMI, dan juga universitas lainnya, melakukan penelitian di bidang tersebut. Output utamanya adalah untuk publikasi di jurnal internasional.


Beliau sangat prihatin dengan sangat minimnya jumlah dosen di Indonesia, termasuk di IPMI, yang bisa melakukan penelitian di bidang tersebut yang sesuai standar dan publikasi di jurnal internasional berkaliber. Menurutnya, kegiatan penelitian dan publikasi yang serius dan rigorous (sangat teliti, lengkap, atau akurat) cukup kurang di Indonesia. Tanpa itu diperbaiki sungguh-sungguh, mustahil bisa membangun perguruan tinggi, termasuk IPMI, yang bisa bersaing secara regional, apalagi global.


Saya terhenyak.


“Kita berada dalam perahu yang sama,” kata saya sambil menyalamnya. Apakah karena kami sama-sama datang dari AS dan juga punya latar belakang relatif sama dalam hal penelitian dan publikasi, saya kurang tahu. Tetapi lebih mudah berbicara tentang hal ini dengan orang asing yang paham situasi daripada sesama Indonesia yang setengah paham.


Entah kebetulan atau tidak, dua bulan sebelumnya, saya menghubungi lebih sepuluh dosen ekonomi dan keuangan di Indonesia yang lulus S3 dari AS, Eropa, atau Australia. Saya hanya libatkan yang minimal agak aktif dalam hal penelitian atau baru lulus S3 dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Asumsi saya, mereka ini masih tertarik dengan gagasan penelitian dan publikasi. Tujuannya? Membentuk wadah seperti gagasan Niclas Adler, tetapi lebih resmi dan lebih luas skopenya.


Berikut potongan email yang saya kirim ke mereka pada 29 September 2012:


Dalam kesempatan ini saya hendak berbagi gagasan untuk mengeksplorasi dan mewujudkan suatu wadah dinamis bernama Indonesian Economic Association (IEA).
…realitasnya ekonom berasal dari Indonesia di dunia akademik internasional, terutama di AS dan Eropa, baik sangat terbatas dalam hal publikasi di jurnal berkualitas tinggi maupun bergelut sebagai dosen di departemen ekonomi…Ide IEA ini beda dengan Indonesian Economist Association (Ikatan Sarjana Indonesia-ISEI), yang saya kira lebih cenderung berfokus pada seremonial daripada substansi mendukung pemajuan peneliti dan penelitian ekonomi di Indonesia.
Tentu berbagai output yang diharapkan dari IEA adalah standar, seperti menyelenggarakan konferensi reguler dan juga penerbitan jurnal Indonesian Economic Review secara reguler (untuk pemajuan peneliti dan penelitian ekonomi di Indonesia), dan membantu mahasiswa berbakat Indonesia masuk ke program S3 bidang ekonomi yang top di AS dan Eropa….
Besar harapan rekan-rekan tertarik dengan gagasan ini dan dengan kemauan serta kerja sungguh-sungguh, kita dapat mewujudkannya.

Tidak ada yang bergeming, kecuali Professor Ariel Yusuf dari Universitas Padjajaran Bandung. Saya kemudian bertemu dengannya di Jakarta. Setelah saya tanya mengapa tidak ada tanggapan dari yang lain, menurutnya karena mereka sibuk dengan proyek atau kepentingan masing-masing.


Saya masih bertanya dalam hati. Beberapa hari kemudian, seorang rekan dosen dari Fakultas Bisnis dan Manajemen ITB yang saya juga email, menelepon saya. Kami sama-sama alumni dari universitas berdekatan di Iowa, AS. Beliau mengatakan hampir sama. Dosen-dosen sibuk proyek. Penelitian hanya ala kadarnya.


Astaga, pikir saya. Saya juga sibuk dengan pekerjaan. Dan jauh dari Indonesia. Tetapi masih sempat berpikir dan mencoba berinisiatif untuk melakukan sesuatu untuk kepentingan umum (a greater good) di tanah air. Bila mereka-mereka, yang mungkin biaya studi doktornya ditanggung oleh uang rakyat, hanya berpikir kepentingan diri sendiri, siapa yang kita bisa harapkan akan berpikir untuk pemajuan kepentingan umum di Indonesia tanpa harus karena imbalan kekuasaan atau uang yang besar?


Bila saya datang dengan menawarkan dana penelitian ke mereka, mungkin akan ada yang menanggapi positif. Dan benar. Saya pernah coba ajukan ke beberapa universitas swasta di Jakarta untuk membimbing dosen mereka melakukan penelitian di bidang bisnis, ekonomi, dan manajemen untuk publikasi di jurnal internasional. Kesempatan luar biasa kepada dosen-dosen dan universitas tersebut. Universitas yang saya kontak menampik, kecuali saya bisa juga bawa dana penelitian. Sudah mau dikasih ilmu dan kesempatan publikasi, masih mau minta dana.


Mentalitas buruk. Atau budaya mengemis.


KURANG BERPIKIR EKOSISTEM


Beberapa tahun lalu Kemenristek Dikti menetapkan aturan bahwa untuk kenaikan jenjang pangkat akademik termasuk untuk bisa menjadi profesor harus ada publikasi internasional. Ini membuat berbagai pihak kalang kabut. Sampai ada sinyalemen bahwa publikasi di jurnal internasional adalah bagian sepak terjang neoliberalisme yang mau menguasai dunia. Konspirasi atau kurang pengertian? Mungkin campur aduk.


Publikasi di media akademis sangat diperlukan karena itulah media berbagi data, analisis, dan temuan-temuan baru, apakah biasa-biasa ataupun terobosan brilian,di bidang disiplin ilmu masing-masing.


Tahun 1905, Albert Einstein memperkenalkan teori relativitas ke khalayak dunia melalui empat karya ilmiahnya yang dipublikasikan di Annals of Physics, jurnal ilmiah di bidang Fisika. Keempat karya ilmiahnya tersebut merevolusi pemahaman sains tentang konsep dasar ruang, waktu, massa, dan energi serta berkontribusi besar bagi fondasi ilmu fisika modern.


Tahun 1953, James Watson dan Francis Crick mempublikasikan temuan mereka tentang struktur helix DNA di media akademis Nature. Karya mereka tersebut sangat monumental di bidang biologi, medis, dan bidang lainnya termasuk hukum kriminal.


Tetapi penelitian dan publikasi tidak selalu harus berakhir seperti yang di atas. Dan apa ide brilian sekarang, termasuk dari Albert Einstein serta Watson dan Crick adalah output daripada perkembangan ilmu sebelumnya, yang juga dilakukan melalui proses berpikir, penelitian, dan publikasi.


Kuncinya adalah suatu penelitian dan publikasi memerlukan proses sistematis, objektif, benar dilakukan, disiplin, dan rigorous. Dan itu semua memerlukan proses pembelajaran dan pelatihan yang terus menerus (termasuk ketika mengambil program Ph.D. misalnya), kolaborasi, biaya, dan lain sebagainya. Yang tidak kalah penting, adanya dukungan sistem dan institusi. Atau ekosistem.


Ekosistem yang saya maksud di sini adalah komunitas peneliti bidang ekonomi dan keuangan yang saling berinteraksi melalui berbagai kegiatan dan dengan dukungan environment setempat untuk memajukan iklim dan kualitas penelitian serta publikasi peneliti Indonesia di bidang tersebut. Ada sistem dan ada environment yang memungkinkan sistem tersebut berjalan dan berkembang. Tanpa adanya ekosistem yang berkembang baik di masing-masing bidang disiplin ilmu, pemajuan penelitian di Indonesia akan begitu-begitu saja.


Bagaimana mengharapkan para dosen yang tidak pernah atau sudah lama tidak melakukan penelitian dan publikasi ilmiah yang rigorous tiba-tiba bisa melakukannya? Gagasan IEA yang saya maksud adalah untuk memberikan support sistem ataupun menumbuhkan ekosistem penelitian dan publikasi khususnya di bidang ilmu ekonomi dan keuangan Indonesia.

Saya kuatir, Kemenristekdikti sendiri pun ketika mengeluarkan peraturan tersebut belum tentu paham akan peranan ekosistem ini.


Karena lemahnya ekosistem ini, para dosen Indonesia pun, khususnya di bidang ekuin, akan cenderung mengambil jalan pintas dengan melakukan apa adanya. Atau seperti isu yang menimpa rektor salah satu universitas negeri yang dituduh dua tahun lalu melakukan plagiarisme dengan copy and paste paper sendiri yang sama dengan derajat kesamaan hampir 80% dan kemudian di “publikasikan” di beberapa jurnal. Atau lebih buruk, mengklaim bahwa publikasi di jurnal akademik internasional adalah bentuk kolonialisme bidang intelektual.

Peraturan seperti mempersulit hidup tanpa menghasilkan perbaikan nyata. Karena tanpa membangun ekosistem.


KAMPUS MERDEKA


Ini juga yang terjadi dengan konsep kampus merdeka dengan persyaratan magang untuk mahasiswa supaya bisa lulus sebagai salah satu pilarnya. Membuat konsep atau aturan bisa saja. Tetapi apakah sudah paham akan keberadaan atau ketidak-adaan ekosistem yang dibutuhkan?


Saya kebetulan lulus dari Northeastern University di Boston, salah satu universitas pertama di AS yang membuat persyaratan magang sebagai syarat kelulusan sarjana. Mayoritas universitas di AS tidak menerapkan persyaratan tersebut. Kenapa? Tidak selalu mudah dalam implementasinya. Northeastern sendiri sudah menerapkannya hampir seratus tahun lalu. Dan mereka sudah mengembangkan ekosistem yang mendukung kebijakan tersebut, termasuk dengan institusi pendukung yang kuat di kampus, jaringan mereka yang luas dengan alumninya yang ada di dunia industri, dan pendekatan langsung universitas ke dunia industri.

Suatu kebijakan untuk memajukan suatu kualitas harus memikirkan ekosistem yang memungkinkan tujuan kebijakan tersebut bisa tercapai. Bila tidak, yang terjadi adalah kebijakan tersebut membuat hidup lebih sudah sementara tingkat kualitas yang ditargetkan tidak tercapai.


IBUKOTA NEGARA BARU


Ibukota negara mau pindah. Alasannya, Jakarta terlalu padat. Juga supaya pembangunan merata. Kedua alasan tersebut kurang tepat. Dan kurang memikirkan ekosistem selama ini. Mengapa manusia ke Jakarta? Pertama, 56% penduduk Indonesia hidup di Jawa. Jakarta ada di Jawa. Berikut sebaran penduduk Indonesia.

  • Jawa 56.1%

  • Sumatera 21.7%

  • Sulawesi 7.4%

  • Kalimantan 6.2%

  • Bali & NTT 5.5%

  • Maluku & Papua 3.2%

Kedua, Jakarta masih pusat keuangan dan pemerintahan. Ketiga, yang tidak kalah penting, secara umum, dalam berbagai hal kota-kota daerah belum memiliki daya tarik sekuat Jakarta.

Faktor pertama dan ketiga di atas mensyaratkan bahwa mengatasi kedua masalah di atas (Jakarta terlalu padat dan perlu pemerataan nasional) adalah dengan menjawab faktor ketiga di atas. Yaitu membuat kota-kota lain di tanah air menjadi habitat yang tidak kalah bahkan lebih menarik dari Jakarta dalam beberapa aspek.


Mengapa tidak mengembangkan kota-kota menengah yang sudah ada atau membangun kota menengah yang baru (misalnya karena pemekaran) di Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTT, Maluku, Papua, dan Sumatera? Artinya membangun ekosistem yang menarik dan sustainable di berbagai antero Nusantara?


IKN ditargetkan menelan biaya sekitar Rp500 T. Berdasarkan pengalaman mega proyek di berbagai negara, biaya bisa bengkak 20-50%. Dengan biaya Rp500 T sudah bisa mengembangkan 20 kota-kota menengah baru di seluruh Indonesia dalam 5-10 tahun ke depan.


Misalnya, investasi sebesar Rp25 T dalam berbagai bidang termasuk pendidikan tinggi di Pematang Siantar, Sumatera Utara akan bisa membuat kota tersebut memiliki daya tarik kuat yang bisa mengundang perpindahan penduduk dalam jumlah besar. Dalam tempo 5-10 tahun, kota tersebut bisa berkembang dengan tambahan 300-500 ribu penduduk baru (apalagi bila dikaitkan dengan pembangunan bidang terkait seperti industri manufaktur, pendidikan, pariwisata, dan lain sebagainya). Sama juga dengan Timika di Papua, misalnya. Dan kota-kota menengah lainnya di Nusantara.


Dikalikan 20 kota, pendekatan ini sudah menyerap 10 juta penduduk baru. Mobilitas penduduk di seantero Nusantara meningkat. Pembangunan yang lebih merata secara nasional dan regional terjadi.


Artinya untuk mengurangi kepadatan Jakarta dan membuat pembangunan lebih merata secara nasional, berpikirlah secara ekosistem.


PENUTUP


Sekitar enam bulan kemudian, saya tanya Profesor Adler tentang realisasi perkembangan gagasannya tersebut. Jawabnya sederhana. Praktis tidak ada yang mendukung.


Saya hampir mau jawab, “You are not alone. Saya sudah mengalaminya.”


Kita kerap pasang target besar mau mencapai bulan, tetapi kurang berpikir secara ekosistem. Akhirnya sekedar target. Itu kelemahan kita.

0 comments

Recent Posts

See All