Search
  • Elwin Tobing

Bahaya Virus AIDS Baru

Updated: Aug 14, 2018


Virus bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV), yang menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), telah menteror dunia dari Afrika, Amerika, Eropa ke Asia. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita AIDS melonjak delapan kali lipat, dari 2.947 kasus pada tahun 2007 menjadi 17.699 kasus pada Juni 2009. Dari jumlah tersebut, 3.586 orang meninggal dunia.


Virus HIV sangat mematikan karena itu menghancurkan sistem kekebalan tubuh yang melawan penyakit, sehingga orang menjadi rawan terhadap penyakit apapun. Apabila virus HIV sudah dikenal di seluruh dunia sejak tahun 1982, ada jenis virus HIV lain yang sudah menyebar sejak dahulu kala dan sekarang menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Kecepatan penyebarannya beriringan dengan berkembangnya Internet, telepon genggam pintar, dan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain sebagainya.


Berbeda dengan HIV yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh, virus jenis baru ini menghancurkan sistem intelijensia atau kecerdasan manusia. Virus ini saya namakan Human Intelligence Deficiency Virus (HInV). Virus ini menyebabkan Acquired Intelliegence Deficiency Syndrome (AIDS) dan menyerang pola pikir manusia. Akibatnya, orang yang terjangkit virus ini bisa kesulitan mencapai kesuksesan dalam hidupnya karena pola pikir mereka telah dibentuk dengan pola tertentu, sehingga kurang dapat menemukan solusi kreatif dan konstruktif atas masalah dan tantangan yang dihadapinya. Virus HInV adalah kombinasi dari sikap “selalu menyalahkan orang lain” dan “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.”


Seperti halnya HIV yang melumpuhkan dan membunuh orang dalam waktu singkat, HInV menyebabkan orang dapat hidup dalam kekalahan dan kemiskinan. Berbeda dengan HIV yang menyebabkan rasa sakit instan, HInV menyebabkan seseorang menjadi delusional. HInV memiliki efek yang mirip dengan narkoba, karena memberikan kepuasan semu dalam pikiran individu yang mengalaminya, menganggap bahwa persoalan hidupnya sudah terjawab bila sudah menyalahkan orang lain.


Namun, virus ini lebih berbahaya karena juga menanamkan kebencian dalam pikiran seseorang. Pada gilirannya, yang bersangkutan tidak akan bisa meningkatkan standar hidupnya jika dirinya terus menyalahkan orang lain atas situasi dan kondisi yang dialaminya. Juga, dia pun tidak akan bisa sukses jika hanya bisa melihat masalah orang lain, tetapi luput memahami masalah dalam dirinya sendiri. HInV tidak hanya dapat menyerang individu, tetapi juga bangsa. Dalam konteks bangsa, tidak ada bangsa yang dapat menjadi lebih maju jika banyak warganya memiliki sikap ‘beracun’ tersebut. Sayangnya, dua sikap tersebut sepertinya sudah umum di mana-mana termasuk Indonesia. Individu-individu yang tidak bertanggung jawab menyebarkan virus tersebut melalui berbagai medium, seperti Internet dan berbagai medium media sosial.


Setelah seseorang terjangkit virus HInV, dia menjadi tidak percaya bahwa sikapnya adalah sangat penting dalam menentukan perjuangan hidupnya. Menurutnya, akar dari semua masalahnya berasal dari sikap dan tindakan orang lain. Dia menjadi tidak peduli terhadap sikapnya yang dapat mempengaruhi masa depannya. Efek berikutnya adalah individu tersebut akan memiliki rasa benci terhadap orang lain dan rasa benci tersebut akan menjadi senjata yang dapat menghancurkan dirinya sendiri.


Bernard Lewis, professor sejarah berkebangsaan Amerika Serikat di Princeton University pernah mengamati bahwa “ketika orang menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, ada dua pertanyaan yang bisa mereka tanyakan. Salah satunya adalah, ‘Apa yang kita lakukan salah?’ Dan yang lainnya adalah ‘Siapa yang melakukan ini pada kita?’ Yang terakhir ini mengarah pada teori konspirasi dan paranoia. Pertanyaan pertama mengarah pada pemikiran lain, ‘Bagaimana kita memperbaiki yang salah tersebut?’”


Ketika kita, apakah individu, masyarakat atau bangsa, menghadapi masalah, pertanyaan pertama haruslah bukan siapa yang menyebabkan masalah, melainkan apa yang kita telah lakukan sehingga masalah tersebut muncul. Setelah itu kita bertanya bagaimana untuk memperbaikinya. Tentu, tidak jarang masalah yang kita hadapi terjadi karena perbuatan atau sikap curang orang lain. Meski demikian, kerangka berpikir tetap harus dalam konteks bagaimana memperbaiki sistim agar kecurangan tersebut bisa dihukum dan dientaskan. Sikap saling salah menyalahkan akan tidak membawa perbaikan.


Terkait dengan ini, ada sedikit cerita menarik yang disampaikan oleh Michael Fairbanks, pendiri dari OTF Group, suatu perusahaan konsultan strategi di Boston, Amerika Serikat. Suatu ketika dia menjadi konsultan kepada Pemerintah dan kalangan bisnis Kolombia untuk mempelajari dan memberikan rekomendasi bagaimana agar pengrajin kulit di Kolombia bisa lebih makmur dengan mengekspor ke Amerika Serikat. Setelah melakukan riset pemasaran tas kulit di Amerika Serikat, Fairbanks dan timnya mempelajari bahwa harga tas tangan kulit asal Kolombia terlalu tinggi sementara kualitasnya rendah.


Dia menulis:


“Kami kembali ke Kolombia untuk mengetahui apa yang membuat produsen kulit menurunkan kualitasnya dan memaksa mereka untuk mengenakan harga lebih tinggi. Mereka mengatakan kepada kami, ‘Itu bukan salah kami!’ Mereka mengatakan itu adalah kesalahan penyamakan kulit lokal yang menyediakan mereka bahan baku tersebut. Penyamakan kulit mendapat 15 persen proteksi tarif dari pemerintah Kolombia yang membuat harga impor dari Argentina kalah bersaing.


Kami pergi ke daerah pedesaan untuk menemukan pemilik penyamakan kulit. Penyamakan kulit mencemari tanah dan air di dekatnya dengan bahan kimia keras. Pemilik menjawab pertanyaan kami dengan senang hati. ‘Itu bukan salah kami,’ mereka menjelaskan, ‘Ini adalah kesalahan mataderos, rumah pemotongan hewan. Mereka memberikan kulit berkualitas rendah kepada penyamakan kulit karena mereka dapat menjual daging sapi dengan lebih banyak uang dengan usaha yang lebih sedikit. Mereka tidak begitu peduli bila mereka merusak kulit sapinya.’”


Yang menarik adalah sikap mengkambing-hitamkan ini terus berlanjut sampai pada rantai produksi berikutnya. Seperti yang diceritakan oleh Michael Fairbanks,


“Kami pergi ke campo dan menemukan rumah pemotongan daging sapi, tukang jagal, dan manajer yang menggunakan stopwatch. Kami mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka dan mereka menjelaskan bahwa itu bukan kesalahan mereka; Itu adalah kesalahan para peternak. ‘Anda tahu,’ kata mereka, ‘para peternak sapi mencap sapi mereka terlalu besar-besar agar para gerilyawan, yang beberapa di antaranya melindungi penguasa obat terlarang, tidak mencuri sapi-sapi tersebut.’ Cap merek yang besar tersebut merusak kulit sapinya.


Kami akhirnya sampai di peternakan, jauh dari ibukota daerah. Berbicara dengan aksen lokal yang cepat, mereka memberi tahu kami, ‘No es nuestra culpa’ (Itu bukan salah kami), kata mereka. ‘Es la culpa de la vaca’ (Itu salah sapi). Sapi itu bodoh, jelas mereka. Mereka menggosok kulit mereka ke kawat berduri untuk menggaruk dirinya dan mengusir lalat penggigit yang banyak di wilayah tersebut.”


Michael Fairbanks kemudian meneruskan, “Kami akhirnya mengetahui bahwa pengrajin tas Kolombia tidak dapat bersaing di pasar Amerika Serikat yang sangat potensial karena sapi mereka bodoh.”


Ketika ada masalah, budaya saling tuding menuding bukan hal yang aneh di tengah masyarakat kita. Orang lain, dan bahkan mungkin seperti cerita di atas, hewan pun kita akan tuding sebagai penyebab mengapa kita, sebagai manusia dan bangsa Indonesia masih jauh dari Indonesian Dream yang dicita-citakan dalam Pancasila.


Banyak dan beragamnya masalah dan tantangan yang kita hadapi dalam membangun dan mewujudkan manusia dan bangsa Indonesia yang berdaulat dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kesalahan persepsi kita tentang orang lain. Banyak dari kita menjadi curiga bahwa negara-negara Barat yang telah dan akan menyerap semua sumber daya kita dan menyebabkan kita hidup dalam kemiskinan. Kita lupa bahwa banyak masalah di tengah masyarakat dan bangsa kita adalah karena budaya mediokrasi dan korupsi yang telah mengakibatkan inefisiensi yang besar dalam alokasi sumber daya kita. Dengan hanya semata-mata menyalahkan bangsa atau orang lain yang kebetulan memiliki latar belakang yang berbeda, kita hanya akan ‘jalan di tempat’.


Secara paradoks, revolusi teknologi di era informasi sekarang telah melampaui batas ruang dan waktu, di mana masyarakat lebih terhubungkan satu sama lain secara elektronik. Kenyatannya, tidak jarang masyarakat justru cenderung menjadi lebih menjauh secara spirit dan semangat dari satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh penyebaran HInV. Jika masyarakat tidak melindungi diri dari virus tersebut dan tidak berkeyakinan bahwa hanya dengan sikap positif kita dapat sukses, maka kita akan sulit mencapai kemajuan. Dan kita pun akan selalu mengalami masalah besar dalam membangun manusia dan bangsa Indonesia yang berdaulat.


Jadi, Prinsip Revolusi Mental #5 adalah: Selalu menyalahkan orang, kelompok, atau bangsa lain tanpa berusaha keras instropeksi dan memperbaiki diri sendiri tidak saja akan gagal mewujudkan Indonesian Dream, tetapi juga akan merusak masa depan diri sendiri dan bangsa Indonesia.


(Diambil dari bagian Bab 9 Revolusi Mental, buku Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-cita Bangsa)

Recent Posts

See All

Demokrasi & SDM di Era New Normal

Pandemik covid-19 memperkenalkan kita jargon baru yang sedikit membingungkan: new normal. Hampir semua wacana, program, dan event saat ini menambahkan kata “era post-covid” atau “era new normal.” Teta

COVID-19: Misteri Abad 21

Kesampingkan sejenak berita panas di media (tradisional dan sosial) tentang protes dan kerusuhan di AS. Media di AS, khususnya berhaluan liberal yang mendominasi media dalam berbagai platform (saya pe

  • Google+ Social Icon
  • Facebook Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Twitter Social Icon

© 2018 by Elwin Tobing.